KKN PMD Universitas Mataram
CEGAH SAMPAH ORGANIK MENUMPUK, MAHASISWA KKN-PMD UNRAM DAN WARGA DESA KEMBANG KUNING BANGUN 24 LUBANG BIOPORI
Desa Kembang Kuning, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, NTB — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pemberdayaan Masyarakat Desa (KKN-PMD) Universitas Mataram tahun 2026 bersama warga Desa Kembang Kuning berhasil membangun 24 lubang resapan biopori yang tersebar di pekarangan 20 kepala keluarga (KK). Program ini digagas sebagai solusi atas belum optimalnya pengelolaan sampah organik rumah tangga di desa wisata tersebut.
Rangkaian program biopori tersebut dilaksanakan selama delapan hari, mulai dari tahap persiapan hingga pemasangan pada 5-12 Juli 2026. Kegiatan dilakukan secara bertahap, mulai dari koordinasi dan sosialisasi, persiapan lokasi, hingga pembuatan dan pemasangan lubang resapan biopori bersama masyarakat.
Desa Kembang Kuning yang terletak di kaki Gunung Rinjani dan terdiri dari enam dusun dikenal sebagai salah satu desa wisata terbaik, baik di tingkat nasional maupun internasional. Namun, pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata ditandai dengan menjamurnya homestay dan kafe turut meningkatkan volume sampah organik rumah tangga setiap harinya. Kondisi ini mendorong mahasiswa KKN mengusung tema besar Ekonomi Hijau (Green Economy) dengan subtema zerowaste, salah satunya melalui program pengelolaan sampah organik terpadu berbasis sistem biopori.
Sebenarnya, infrastruktur dasar biopori di Desa Kembang Kuning bukanlah hal baru. Program sebelumnya telah menginisiasi sejumlah titik lubang resapan, namun adopsi dan perluasannya di area pemukiman warga dinilai masih sangat stagnan. Akibatnya, sampah organik domestik terus menumpuk dan berpotensi memicu polusi serta menurunkan estetika lingkungan desa wisata. Padahal, biopori dikenal memiliki keunggulan ekologis signifikan karena mampu menampung sampah rumah tangga tanpa menimbulkan bau, sekaligus memperbaiki struktur hara tanah secara alami.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN menjadikan reaktivasi sekaligus perluasan titik biopori sebagai salah satu program kerja utama di bidang lingkungan. Melalui penyempurnaan teknik instalasi menggunakan alat yang sudah tersedia di desa, biopori dimaksimalkan sebagai unit sanitasi mandiri tingkat rumah tangga yang mengubah sampah domestik menjadi kompos penyubur tanah.
Kegiatan diawali dengan sosialisasi kepada kepala desa, perangkat desa, dan masyarakat mengenai manfaat biopori, mulai dari pengelolaan sampah organik rumah tangga, konservasi air, hingga peningkatan kualitas dan kesuburan tanah. Tahap ini penting agar program dapat diterima dan didukung bersama sebelum masuk ke tahap pelaksanaan.
Setelah sosialisasi, mahasiswa turun langsung mendampingi warga mempraktikkan pembuatan lubang resapan biopori di sejumlah pekarangan rumah menggunakan alat pengeboran yang sudah tersedia di desa. Pendampingan teknis ini dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari proses pengeboran hingga perbanyakan titik lubang, agar masyarakat benar-benar memahami dan mampu menjalankan program secara mandiri ke depannya.
Dalam pelaksanaannya, tim tidak lepas dari sejumlah tantangan teknis. Kondisi tanah yang cukup keras di beberapa titik membuat proses pengeboran memakan waktu lebih lama, ditambah keberadaan akar tanaman di sekitar pekarangan warga yang mengharuskan pengerjaan dilakukan lebih hati-hati agar tidak merusak tanaman yang sudah ada. Tantangan lain datang dari banyaknya jaringan pipa air bersih yang tertanam di dalam tanah, mengingat sumber air masyarakat Desa Kembang Kuning berasal dari mata air pegunungan.
Untuk mengatasi kendala tersebut, mahasiswa bersama warga lebih dulu melakukan identifikasi lokasi dan berkoordinasi dengan pemilik pekarangan serta pemerintah desa sebelum menentukan titik pengeboran yang aman. Pendekatan kolaboratif ini terbukti efektif sehingga seluruh target pembuatan biopori tetap dapat tercapai sesuai rencana.
Hasil dan Keberlanjutan Program
Hasilnya, sebanyak 24 lubang resapan biopori berhasil dibuat dan tersebar di 20 kepala keluarga se-Desa Kembang Kuning. Pencapaian ini menjadi bukti nyata tingginya partisipasi masyarakat dalam mendukung pengelolaan lingkungan berbasis rumah tangga, sekaligus memberi pengalaman langsung kepada warga mengenai teknik pembuatan dan pemeliharaan biopori. Kepala Wilayah Dusun Orong Sendero, Tarmizi Tahir, turut merasakan manfaat penggunaan biopori bagi tanaman di sekitar rumahnya. “Pohon anggur ini saja yang kondisinya setengah mati, ketika biopori ditanam di dekatnya bisa hidup lagi dan bersemi kembali, kemudian bisa berbuah,” ujarnya. Hal serupa juga disampaikan Kepala Wilayah Desa Kembang Kuning, Lalu Hamdan. Ia mengaku sebelumnya belum menggunakan biopori, tetapi setelah mencoba menerapkannya, perubahan pada tanaman mulai terlihat. “Dulu saya tidak menggunakan biopori, tapi ketika saya mencoba menggunakan biopori alhamdulillah hasilnya cepat kelihatan. Pohon durian yang letaknya di dekat biopori tumbuh subur,” ungkapnya.
Agar manfaatnya tidak berhenti seiring berakhirnya masa KKN, mahasiswa juga melakukan Transfer of Technology (ToT) berupa penyerahan modul inovasi pembaruan sistem biopori kepada pengurus Karang Taruna selaku mitra pengelola lingkungan desa. Melalui pendampingan ini, generasi muda desa diharapkan mampu merawat sekaligus memperbanyak titik-titik biopori secara swadaya di masa mendatang, sehingga cakupannya dapat terus meluas ke seluruh pekarangan warga.
Program biopori ini menjadi salah satu wujud nyata kontribusi mahasiswa KKN-PMD Universitas Mataram dalam mendukung Desa Kembang Kuning sebagai desa wisata yang bersih, lestari, dan berkelanjutan sejalan dengan visi besar Ekonomi Hijau yang diusung sepanjang program berlangsung.